Gepur's World Best View Using Mozilla Firefox 3.6 With High Resolution

Pages

Subscribe:

Rabu, 01 Agustus 2012

refleksi secangkir kopi

oleh Lalu Arman Rozika pada 31 Desember 2011 pukul 22:27 
 
 
tahun sudah senja dan uzur
tapi ini bukan perkara umur
ia reinkarnasi, sebentar lagi jadi lahir
orang-orang di lapangan sudah siap sedia
bawa kembang api dan mercon di tangannya
orang-orang lagi nunggu tahun baru, kata emak
ah, manakupeduli
biarin saja orang-orang itu pada belagu
nunggu tahun jadi baru
padahal buat beli secangkir kopi saja mereka ndak mampu
bukan kopi namanya kalau ndak bikin semangat
secangkir kopi semangat sekarang memang lagi mahal
kulihat orang pukul-pukulan di televisi
ngerebutin itu yang namanya kopi semangat
konon kopi semangat bisa bikin panjang umur
bisa bikin langgeng rumah tangga, kata emak
ah, manakupeduli
yang penting kopinya sudah di dalam gelasku
tinggal kusruput dan kuhabiskan
sehingga besok aku tidak takut mati, lagi
ngomong-ngomong masalah kopi semangat
ada juga yang bilang kalau kopi semangat bisa bikin orang jadi pandai
jadi insinyur, teknokrat, dokter
pokoknya prestisius lah
ah, manakupeduli
yang penting kopi sudah kuteguk
jadi besok aku tidak takut dicerai isteri
biarpun duit cuma bisa beli lauk teri sambal terasi
ngomong-ngomong masalah kopi semangat
ini kopi aku temukan kemarin, di belakang rumah
ndak sengaja kutemukan waktu aku lagi angkat jemuran
wah, beruntung sekali kutemukan
konon kopi semangat memang bisa jalan sendiri
yang beruntung bisa dapat kopi semangat tiba-tiba entah di sana atau di sini
tapi
ah, manakupeduli
yang penting ini kopi punyaku
lumayanlah buat nunggu tahun jadi baru
sambil seruput kopi semangat
aku ingat tadi pagi aku beli kembang
nah, saatnya bakar kembang
kuambil korek api
kunyalain dan kubakar melati hitam yang kubeli di pasar kemenyan
duarrrr, jadilah dia kembang yang nyala
kata orang-orang itu namanya kembang api
kembang api buat nyambut tahun besok
ah, manakupeduli
yang penting melati hitam sudah kubakar
melati putih di depan rumah sudah mekar


Semarang, di penghujung 2011
 

0 komentar:

Posting Komentar