Gepur's World Best View Using Mozilla Firefox 3.6 With High Resolution

Pages

Subscribe:

Selasa, 31 Juli 2012

Yang Tertinggal Di Sana

oleh Lalu Arman Rozika pada 2 Mei 2012 pukul 22:50 ·


Pagi terasa menjemukan. Mungkin karena  segelas kopi hitam yang tergeletak di depanku, yang biasanya membuat pagi menjadi bergairah, belum kuteguk. Mataku terpaku menatap kepulan asap kecil yang keluar dari mulut gelas. Namun pikiranku melayang kesana kemari seperti pohon nyiur diterpa angin.  Aku tengah menanti detik keberangkatanku kembali pada rutinitas akademik. Kembali ke kota yang semoga saja akan membuatku menjadi lebih berguna bagi tanah kelahiranku. Tiket pesawat sudah dipesan. Untunglah di tengah kesulitan ekonomi dan harga tiket yang melangit, pamanku berbaik hati membelikan tiket  pesawat untukku. Walaupun hanya sampai Surabaya, aku sangat bersyukur. Dan aku pun menyadari, harga tiket sampai Semarang tentu cukup mahal.

Satu teguk kopi yang sebelumnya  sudah kunikmati harumnya, mengalir ke dalam tenggorokanku. Alirannya terasa mendamaikan dan cukup menenangkan pikiranku. Kudengar ibu masih mengomel di belakang. Entah apa yang membuatnya marah waktu itu. Seperti biasanya, ibu akan mengeluarkan beribu-ribu huruf dalam waktu yang sangat cepat jika ia sedang marah. Adik-adikku memang seringkali membuat ibu merasa jengkel dan kesal. Namun menurutku, tak sekalipun ibu sungguh benar-benar marah. Dalam waktu sekejap saja ibu akan kembali tersenyum dan tertawa bersama kami, walaupun pada detik sebelumnya ia habis mengomel. Itulah salah satu yang menyebabkanku memberikan predikat wanita terbaik di muka bumi untuknya. Kenyataannya, aku tak pernah mengungkapkan predikat itu secara langsung kepada ibu.

Jarum jam terasa bergerak semakin cepat. Berputar dan berputar. Seakan tahu isi hatiku yang dirundung ketidakmenentuan. Entah mengapa keberangkatanku kali ini terasa kosong dan tidak bergairah. Tidak biasanya aku merasakan hal seperti ini. Pada liburan-liburan sebelumnya aku merasa keberangkatanku kembali ke kota semarang merupakan hal yang biasa-biasa saja. Dan aku menjalaninya dengan perasaan biasa saja. Namun kali ini terasa sungguh berbeda, aku seperti akan meninggalkan tanah kelahiranku untuk waktu yang lama. Lama sekali.

Setelah cairan kopi mencapai ampasnya, aku langsung mencuci gelas tempat singgahnya kopi tersebut. Kemudian kubuka kembali tas dan koper yang akan kubawa ke semarang. Aku mengecek semua barang-barang yang hendak kubawa. Ayah berulangkali mengingatkan untuk memeriksa kembali barang-barang bawaan sebelum keberangkatan nanti. Ia tidak mau jika nanti ada yang tertinggal. Walaupun sebenarnya jika ada yang tertinggal, dapat dikirimkan saja lewat jasa pengiriman.

Waktu terus bergerak. Jarum jam yang menempel di dinding rumah seakan-akan mengusirku dari rumah ini. Jarum jam itu tak mau berhenti berdetak barang sedetik saja. Ia terus bergerak dan bergerak. Semakin dekat waktu keberangkatanku, aku semakin enggan meninggalkan rumah ini. Aku masih ingin berlama-lama menikmati pagi dan senja dengan wajah bahagia. Aku masih ingin melihat embun menetes dari daun kemiri yang ditanam ibu. Aku masih ingin mendengar kokok ayam jantan yang rajin mengingatkan subuh telah datang, tentu selain suara adzan.

Untuk kesekian kalinya aku kembali memeriksa barang-barang bawaanku. Kemudian kupastikan tidak ada yang tertinggal. Namun ayah masih saja bertanya padaku “Masih ada yang tertinggal tidak? Coba diperiksa lagi..” seolah aku akan meninggalkan barang berharga.

“Tidak yah, semuanya sudah masuk ke dalam tas, kok” aku menjawab pertanyaan ayah dengan sedikit ketidakpastian yang kembali muncul dalam diriku.

“Ya sudah. Kalau sudah dibawa semua ayo lekas berangkat. Pesawatnya terbang satu jam lagi. Paman Adni sudah menunggu di bandara”

“Iya-iya.. berarti aku ndak bisa pamitan dulu sama Indra dan Egi, ya?”

“Adik-adikmu kan sekolah, dan sepertinya pulang nanti sore. Sudah, tidak apa-apa. Kau ini, seperti akan pergi ke tempat yang jauh saja”. Andaikan ayah tahu. Walaupun hanya ke semarang, aku merasa sangat jauh jika tidak bersama kalian, keluargaku.

Sesaat kemudian paman adni menelepon ayah. Kami diminta cepat-cepat ke bandara. Untunglah jarak rumahku dan bandara hanya kurang lebih sepuluh menit. Jadi tidak perlu terburu-buru.

Sesampainya di bandara, aku dan ayahku mencari paman adni. Paman adni adalah seorang pegawai di bandara. Dialah yang telah berjasa membelikanku tiket pesawat.
Tidak lama kemudian kami berdua bertemu paman adni. Aku dan ayah mengobrol sedikit dengan paman adni. Tiba-tiba saja ibu meneleponku

“Nak, sudah sampai mana?” terdengar ibu tergesa-gesa berbicara

“Sudah sampai bandara, bu. Ada apa?”

“Eeeeehh, kau ini. Buku puisimu ketinggalan”

“Hah? Astaga, ternyata aku lupa memasukkannya”

“Sudah, tunggu di sana, bibi Lia sedang menuju ke sana, bukumu diantar bibi lia. Kau ini!”

“Hehehe, maaf maaf. Ternyata itu yang dari tadi membuat gelisah”

“Hmmm, ya sudah. Hati-hati ya nak. Nanti kabarin kalau sudah sampai semarang”

“Iya bu, nanti pasti dikabari” tuuut.. tuuut.. tuuut. Ibu mematikan teleponnya.

Ternyata aku lupa memasukkan buku puisi kesayanganku. Ah, hampir saja aku tidak jadi membawa buku puisi itu. Buku puisi itu selalu menjadi obat mujarab mengatasi rasa galau yang kadang-kadang datang tanpa perlu undangan.
Beberapa menit kemudian, bibi lia terlihat datang. Seperti yang dikatakan ibu, bibi lia membawakan buku puisiku.

“Ini buku puisimu..hampir saja ketinggalan”

“Hhhh, iya… hampir saja” kataku

Kami berempat. Aku, ayah, bibi lia, dan paman adni kemudian berbincang-bincang sembari menunggu pesawat yang sebentar lagi akan terbang membawa ragaku ke semarang.

Tanpa diduga-duga, telepon genggamku kembali berbunyi. Kutekan tombol berwarna hijau, dan terdengarlah kembali suara ibu di ujung sana.

“Heh, kau ini bagaimana sih. Kaus sepak bolamu juga ketinggalan ini!”

“Apa? Hmmm.. Ya sudah, bu. Biarkan saja, nanti beli kaus sepak bola di semarang saja kalau begitu”

“ya sudah…” ibu seperti menyimpan sesuatu pada kedalaman suaranya. Sesuatu paling berharga yang akan kutinggalkan, yang tidak mungkin kumasukkan ke dalam tas maupun koper “kalau begitu selamat jalan ya. Tetap jaga kondisi kesehatan di perjalanan” ibu menutup telepon.

Pesawat akan segera berangkat. Penumpang diminta untuk segera berada di ruang tunggu. Kemudian aku bergegas menyalami tangan ayah, bibi lia, dan paman adni satu persatu. Setelah itu aku langsung menuju ruang tunggu. Aku berjalan dengan perasaan tidak menentu.

Setelah buku puisi dan kaus sepak bolaku tertinggal, aku merasa masih ada yang tertinggal di rumahku. Aku masih sangat merasakannya.

Di dalam pesawat, aku melihat hamparan awan-awan putih keperakan menggumpal, seperti  halnya perasaanku yang menggumpal tersebab sesuatu yang kutinggalkan di rumah itu. Sesuatu yang kutinggalkan di dinding kamar. Sesuatu yang kutinggalkan di atas bantal. Sesuatu yang kutinggalkan di lantai, di pohon kemiri, di dapur, di semua sisi rumah. Sesuatu yang kutinggalkan di mata ibuku.

0 komentar:

Posting Komentar